Tampilkan postingan dengan label lagu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lagu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2017

Mendulang Uang dari Ajang Rising Star

Posted by Unknown On 23.49 | No comments
Mendulang Uang dari Ajang Rising Star
Ajang pencarian bakat Rising Star. FOTO/hollywoodreporter.com

Rayhan Satria (13) tak menyangka suaranya bakal mendapat pujian dari banyak orang. Penampilannya di sebuah ajang pencari bakat, Rising Star Indonesia pada Senin (2/1/2017) banjir tepuk tangan dari penonton.

Dalam tayangan YouTube di akun Rising Star Indonesia, Rahyan yang saat itu membawakan lagu Tulus berjudul “Pamit” juga banyak mendapat pujian dari para juri.

“Cara kamu nyanyiin dan vokal kamu tuh bulat banget, mau empat kali yes tadi tuh. Aku dah jatuh hati dari pertama kali dengar suara kamu nyanyi waktu itu,” kata Rossa, penyayi yang didapuk sebagai juri Rising Star Indonesia.

Rayhan tidak sendiri, Trio Wijaya (22) asal Medan juga menunjukkan kebolehan yang cukup memukau. Berkat penjiwaannya yang baik, Trio yang saat itu membawakan lagu "All I Want" milik Kodaline berhasil membuat Rossa menangis dan para penonton pun terenyuh.

Juga yang tak kalah menarik, penampilan dari duo Agung & Mieke. Pasangan suami istri berusia 36 tahun ini membawakan lagu "Stereo Hearts" milik Gym Class Heroes Ft. Adam Levine.

“Kalau gua sih senang ya kalau di Rising Star ini ada yang mewakili rap. Tapi bukan karena mewakili, tapi karena kalian keren, saya bisa nikmati penampilan kalian malam ini," ucap Judika, juri yang merupakan jebolan Indonesian Idol ini.

Itulah gambaran singkat penampilan para kontestan di Live Audition Rising Star Indonesia. Sebelumnya audisi yang berlangsung pada September-Oktober 2016 itu digelar di lima kota di Indonesia, yaitu Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Jakarta dan Medan.

Program Rising Star Indonesia, bukan kali pertama menyapa pemirsa televisi. Acara yang diadopsi dari kompetisi menyanyi asal Israel berjudul Hakhohav Haba ini pertama kali tayang pada 28 Agustus 2014 di RCTI.

Berbeda dari ajang-ajang pencari bakat lain seperti Indonesian Idol, AFI, X-Factor, The Voice Indonesia yang menggunakan pakar musik atau selebriti sebagai dewan juri, Rising Star justru menggunakan pemirsa sebagai juri utama. Melalui aplikasi selular, pemirsa bisa memutuskan apakah kontestan tersebut layak atau tidaknya melanjutkan ke babak selanjutnya.

Ajang-ajang pencari bakat macam Rising Star tentunya tidak hanya instan dalam melejitkan karir seseorang. Lebih dari itu, aksi dari para kontestan ini juga dinilai mampu mengikat penonton sehingga mampu meningkatkan rating acara, hingga jadi daya tarik untuk pemasang iklan.

Mandi Uang dari Iklan


Menurut data yang dihimpun oleh Adstensity, program Rising Star Indonesia yang ditayangkan oleh RCTI mampu meraih pendapatan total kotor iklan sekitar Rp40,4 miliar dalam enam kali tayang di 701 spot iklan. Acara ini tayang pada pukul 21:00 hingga 23:45 WIB.

Penayangan yang berlangsung pada 12-27 Desember 2016 memiliki rata-rata keuntungan sekitar Rp6,736 miliar di 116 spot iklan. Sementara untuk 10 Top Brand yang beriklan di program Rising Star ada Gudang Garam, Dunhil, Djarum, Advan, Lucky Strike Mild, Isoplus, Emeron, Top White Coffe, Hemaviton, dan Sampoerna.

Berbeda lagi dengan acara pencari bakat seperti The Voice Indonesia, acara yang juga ditayangkan di RCTI pada 26 Februari-20 Juni 2016 setiap pukul 21:00 WIB, berdasarkan data Adstensity, program ini memperoleh total pendapatan kotor iklan sekitar Rp110,587 miliar di 1.874 spot iklan, dengan rata-rata pendapatan Rp6,911 miliar di 98 spot iklan. Sebanyak 10 Top Brand yang beriklan di The Voice Indonesia antara lain, Sampoerna, Advan, Djarum, Indomie, Pucuk Harum, Sido Muncul, Gudang Garam, Pond's, Wardah, dan Walls.

Sebagai perbandingan, untuk program ajang pencari bakat penyanyi dangdut tingkat Asia, D'Academy Asia 2 yang berlangsung pada 23 Oktober-19 Desember 2016 dan tayang di Indosiar pada pukul 18:00 WIB, berhasil meraup pendapatan Rp609,217 miliar di 12.212 spot iklan. Sementara untuk pendapatan rata-rata Rp11,281 miliar di 226 spot iklan.

Selain di Indonesia, ajang Rising Star juga berlangsung di Amerika Serikat dan mengudara di ABC pada tanggal 22 Juni 2014. Sayangnya, acara yang memenangkan Audrey Kate Geiger, Austin French dan Jesse Kinch ini  tak mampu benar-benar mengangkat karir para juara sebagai "bintang".

Berbeda dengan jebolan American Idol. Pemenang American Idol pada musim pertama di 2002, Kelly Clarkson ini bahkan telah berhasil meraih double platinum untuk album “Thankful” (2003) dan Breakaway (2004). Album berjudul Breakway bahkan terjual lebih dari 20 juta kopi di seluruh dunia. Selain itu ia juga berhasil meraih 2 Grammy Award pada 2006 untuk Best Female Pop Vocal Performance dan Best Pop Vocal Album.

Hal ini juga terjadi di Indonesia. Para juara Rising Star Indonesia seperti Indah Nevertari dan Hanin Dhiya belum menunjukkan karir yang cemerlang. Berbeda dengan bintang-bintang Indonesian Idol seperti Judika, Citra Scholastika, Virzha, Regina yang sudah eksis.

Apakah ini masalah waktu saja? Tentu jawabannya tak ada yang bisa memastikan, tapi lagi-lagi yang sudah pasti adalah para televisi pembuat acara pencari bakat yang mendulang uang dari program kompetisi rising star
 

Posted by Unknown On 23.47 | No comments
Jalan Tengah Bagi Pengunduh Musik Bajakan
Ilustrasi pemusnahan CD bajakan. GETTY IMAGES

MusicWatch, sebuah firma yang fokus pada industri musik di Amerika, pada 2016 menurunkan laporan bahwa ada 57 juta orang di Amerika yang berbagi musik secara ilegal. Melalui data person to person (P2P), mereka membagi musik yang diunduh atau diretas dari CD untuk kemudian dibagikan kepada orang lain. Beberapa di antaranya meretas lagu tersebut dari layanan lagu streaming yang ada. Temuan tersebut juga menunjukkan beberapa tren selera musik dan perilaku belanja para pendengarnya.

Banyak dari pengunduh ilegal ini yang kemudian membeli secara legal musik yang mereka sukai. Polanya: mereka mengunduh album di situs file sharing, mendengarkan lagunya secara utuh, jika kemudian bagus atau disukai, para pengunduh ini akan membeli lagu musisi tersebut secara legal. MusicWatch mengajak 1.000 partisipan di Amerika dari rentang usia 13-50 tahun yang melakukan pengunduhan musik secara ilegal. Hasilnya dari 57 juta pengunduh ilegal, 25 juta di antaranya rela membeli musik yang disukai dengan kualitas lebih baik.

Bagaimana perspektif hukum di Indonesia tentang musik yang diunduh secara ilegal? Putri Fallissa, konsultan hukum ekonomi kreatif & hiburan, mengatakan kita perlu paham konsep ilegal dan tidak. Menurut Putri, pembajakan di Indonesia hubungannya adalah dengan hak ekonomi. “Kalau gue menggandakan kaset tanpa izin, terus gue jual lagi, itu pembajakan. Itu ilegal. Tapi kalo gue rekam lagu-lagi dari kaset untuk bikin mixtape, untuk keperluan pribadi saja, atau kasih 1-2 teman, itu relatif enggak apa-apa,” katanya kepada Tirto.

Masalah muncul jika file itu dibagikan lewat situs berbagi data P2P (person-to-person) seperti Torrent. Ada perdebatan soal bagaimana mengukur niat seseorang, cara mendapatkan data yang kemudian dibagikan, dan pemanfaatan data yang dibagikan tersebut. Apakah ia digunakan sendiri atau dijual kembali? Pemilik situs Torrent merasa mereka tidak membajak, sebab yang mereka lakukan adalah memfasilitasi pengguna untuk berbagi file yang sudah mereka punya, tanpa biaya apapun dengan niat berbagi data non-komersil.

Radiohead adalah salah satu band yang dikenal membagikan musik mereka secara gratis di situs Torrent. Mereka secara terbuka membagikan karya mereka untuk didengarkan dan diunduh seluas-luasnya. Dari data unduhan mereka bisa mengetahui negara atau daerah mana saja yang secara spesifik paling banyak mengunduh. Di situ mereka bisa memanfaatkan dengan tur konser dan penjualan pernak-pernik band. Ada keuntungan ekonomi yang didapat di luar sekedar menjual album.

Untuk di Indonesia, menurut Putri, demi keamanan dan kesadaran hukum masyarakat perlu tahu asal usul file yang mereka share. “File-nya adalah hasil membajak, apa memang itu file orisinal? Dalam kasus Radiohead, itu file orisinal dia sendiri. Jadi, memang hukum yang harus berkembang dalam mendefinisikan ulang apa itu pembajakan,” katanya.

Sejauh ini, pembajakan punya dampak hukum yang ketat. Di Indonesia, seseorang bisa mengalami masalah hukum jika membajak lagu, namun itu ada dalam delik aduan. Artinya, seseorang yang diduga melakukan pembajakan dapat diproses hukum atas pembajakan jika ada aduan dari pemegang hak cipta yang merasa dirugikan.

Jalan Tengah

Pry S. adalah pendiri Ripstore Asia, platform digital untuk legal music sharing di Indonesia. Ia menyebutkan masalah terbesar Torrent adalah kita tak pernah bisa benar-benar tahu file yang dibagikan berasal dari pembelian legal atau dari unduhan ilegal. Banyak musik yang kita temui di Torrent memang ilegal karena ada pengguna yang membagikan karya berhak cipta kepada pengguna lain yang tidak membeli/ mengunduhnya secara legal.

“Dalam konteks apapun, hal ini jelas tidak bisa ditolelir. Dan sialnya memang agak susah—untuk tidak mengatakannya mustahil—men-shutdown atau menghapus (content removal) sebuah link file yang beredar di Torrent,” katanya.

Namun, bukan berarti kita tak bisa menikmati layanan musik gratis secara legal. Pry menyebutkan banyak juga konten musik legal dengan lisensi bebas yang bisa kita temui di Torrent, biasanya menggunakan lisensi Creative Commons yang memungkinkan pengguna membagikan ulang kepada pengguna lainnya tanpa dibatasi ketentuan mengikat.

“Hollywood Studios, Sub Pop Records, Radiohead, Nine Inch Nails adalah contoh publisher, label, dan musisi yang mendistribusikan musik secara legal via Torrent,” jelasnya.

Contoh terbaru yang cukup membikin heboh adalah layanan BitTorrent Now, sebuah proyek konten legal dari perusahaan pengembang software Torrent bernama BitTorrent asal US sejak 2013 lalu. Linkin Park, Pixies, Public Enemy, Madonna, dan Thom Yorke adalah contoh artis yang membagikan musiknya di sana. Pry selalu menggunakan website BitTorrent Now untuk mencari konten musik bagus berlisensi bebas dan file berukuran besar—sampai sekian giga—tanpa kesulitan mengunduhnya. Mereka bahkan punya aplikasi sendiri yang memudahkan user mengunduhnya dari gajet. Semua kontennya legal, diterbitkan oleh musisinya sendiri.

“Posisi BitTorrent Now dalam hal ini jelas sebagai platform, dan hal seperti ini yang sedang saya kembangkan di Ripstore Asia sebagai platform berbagi musik secara legal di Indonesia,” kata Pry.

Putri memperingatkan penikmat musik Indonesia tentang Pasal 113 UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta yang berpotensi bisa memenjarakan pengunduh ilegal, meski ada celah yang bisa digunakan untuk mengunduh musik secara gratis. “Yang bisa dipidana adalah kalau pelanggaran hak ekonominya itu dalam rangka penggunaan secara komersial.

"Penggunaan secara komersial" ini bisa mengundang perdebatan lagi. User yang share file-nya mungkin relatif aman, karena dia kan ga cari untung dari nge-share file,” jelasnya.

Seperti Putri, Pry juga menganggap perlu ada definisi ulang tentang makna legal dalam berbagi file di dunia digital khususnya musik. Maka, yang perlu dikembangkan adalah edukasi dan pemahaman publik tentang konsep file sharing dan bagaimana pemanfaatannya. “Torrent hanya sekedar alat/teknologi P2P dengan metode file sharing. Ibarat pisau, apakah dia digunakan untuk memotong wortel atau menusuk seseorang, semua tergantung pelakunya,” jelasnya.

Budaya Berbagi

Pry punya pandangan menarik soal apa yang ia sebut sebagai budaya berbagi. “Bahwa kita senang ketika kesukaan kita menjadi kesukaan orang lain, hal yang kita nikmati juga dinikmati orang lain, apa yang kita buat disimak oleh orang lain,” katanya. Dengan pendekatan ini, maka akan lahir etos guyub di mana berbagi pengetahuan, hobi, dan ilmu bisa dilakukan kepada siapapun. “Sharing culture di internet ini, entah kenapa cocok sekali dengan budaya Timur. Budaya sharing ini saya pikir akan cukup dominan menentukan nasib musik digital di Indonesia ke depannya,” jelas Pry.

Para musisi semestinya mulai mengembangkan kesadaran baru dalam distribusi musik mereka. Pry melalui Ripstore Asia menggelar Tribute to Efek Rumah Kaca pada Juli tahun lalu bersama pihak Creative Commons Indonesia. Hasilnya mengejutkan. Ada 65 lagu cover atas 23 lagu Efek Rumah Kaca yang tersebar di 3 album, digubah ke dalam 15 genre/subgenre oleh 63 partisipan yang terdiri dari 29 proyek solo, 30 band, dan 4 kolaborasi dari 25 wilayah, yakni 17 kotamadya dan 8 kabupaten di Indonesia bagian barat, tengah, dan timur.

“Hal ini mungkin terjadi karena ERK dibesarkan oleh internet dengan kultur file sharing-nya. Cholil Mahmud dalam salah satu wawancara juga mengatakan bagaimana ia berhutang banyak pada internet, hal yang membuat dia memutuskan untuk menggratiskan karyanya via internet,” katanya.

Putri juga beranggapan musisi juga bisa berperan dalam melakukan edukasi penggemarnya tentang file sharing dan legalitas musik di dunia digital. Musisinya bisa mendidik penggemarnya, bukan hanya soal file sharing, tapi juga tentang aktivitas mengunduh musik yang legal.

“Untuk yang satu ini gue jujur aja meneladani model idol group Korea Selatan. Ada rasa cinta antara si idol dan fans, sampai fansnya enggak tega buat membajak. Maunya beli album asli,” katanya.

Mengapa edukasi penting? Sejauh ini banyak masyarakat yang susah membedakan tentang apa itu pembajakan karya dan pencurian karya. “Soalnya kalo gue perhatikan, orang itu sebetulnya ga ngerti kerugian dari membajak itu apa. Mereka paham harus beli orisinal. Tapi mereka enggak benar-benar paham soal pembajakan dan konsekuensinya,” lanjutnya.

Ihwal perdebatan seperti "pembajakan sama dengan pencurian", menurut Putri, masyarakat semestinya diajari bahwa mengunduh lantas menjualnya kembali adalah pembajakan dengan tujuan ekonomi. Dan seperti mencuri, ia bisa dikenai sanksi hukum.

Melalui Ripstore Asia, Pry berusaha mengembangkan soal fair trade music, yakni bagaimana pengguna dapat mengunduh lagu secara cuma-cuma di situsweb-nya, dan musisi mendapat fans baru lewat lagu yang digratiskannya. Dengan begitu, musisi akan mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang fansnya ketimbang sekadar menggratiskannya di Soundcloud. Gambaran umum tentang fans pengunduh inilah yang ke depannya berguna bagi musisi untuk mengembangkan karirnya di musik.

Pry sendiri menilai pembajakan merupakan ancaman untuk musik di masa lalu. “Saya rasa istilah pembajakan musik di era internet ini perlu didefinisikan ulang,” jelasnya. 
 

Jumat, 02 Desember 2016

Air Supply tunda konser di Jakarta

Posted by Unknown On 17.29 | No comments
Air Supply tunda konser di Jakarta
Penampilan Air Supply Personel band Air Supply, Russell Hitchcock (kiri) dan Graham Russell (kanan) membawakan lagu berjudul "Making Love Out of Nothing At All" dalam Tur "Air Supply 40th Anniversary" di Gedung Cakrawala, Malang, Jawa Timur, Selasa (10/3). Band asal Australia beraliran soft rock tersebut membawakan 15 lagu hits mereka antara lain "I Can Wait Forever", Goodbye dan Making Love Out of Nothing At All". (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Jakarta (ANTARA News) - Grup musik ballad Air Supply mengumumkan penundaan konser ”Air Supply 40th Anniversary Celebration Of Love” yang semestinya akan di selenggarakan besok, Sabtu (3/12).

"Hal ini berkaitan dengan pemberitahuan dari pihak Management Air Supply yang kami terima pada hari Jumat, 02 Desember 2016 yang menyatakan dengan berat hati bahwa show-nya untuk Tour Asia Tenggara terpaksa harus di tunda, " kata Full Color Entertainment dalam keterangan tertulisnya yang diterima ANTARA News, Jumat.

Hal tersebut dikarenakan salah satu member Air Supply Mr. Russel Hitchcock dikabarkan kelelahan akibat jadwal tour yang padat.

"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," sambung Full Color Entertainment.

Mengenai tiket konser yang telah dibeli, pihak promoter memberikan dua pilihan. Pertama, tiket dapat dikembalikan 100 persen. Jadwal pengembalian yiket dapat dilakukan mulai 7-21 Desember 2016 di tiket box masing-masing saat pembelian.

Kedua, tiket bisa di depositkan untuk jadwal konser "Air Supply 40th Anniversary Celebration Of Love" yang akan dilaksanakan pada 4 Maret 2017 di The Kasablanka Hall - Mall Kota Kasablanka.

3 Diva akhiri konser reuni di Surabaya
Konferensi Pers Konser 3 Diva Penyanyi Ruth Sahanaya (kiri) dan Titi DJ (kanan) berpose sebelum menyampaikan konferensi pers terkait konser 3 Diva di Jakarta, Rabu (10/8/2016). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Surabaya (ANTARA News) - Penyanyi 3 Diva Indonesia yaitu Krisdayanti, Ruth Sahanaya, dan Titi DJ akan mengakhiri konser reuni yang digelar di tiga kota dengan jadwal terakhir di Surabaya pada 3 Desember. 


"Sengaja kita pilih lokasi konser di tiga kota besar ini karena merupakan barometer musik di Indonesia," ujar promotor konser reuni 3 Diva dari JR Production Ari Joshua, saat jumpa pers di Surabaya, Jumat.



Sebelumnya, 3 Diva Indonesia sudah menggelar konser reuni di Yogyakara pada 23 April dan Jakarta 17 September lalu. 



Sesuai rencana, konser penutup reuni 3 Diva di Surabaya dijadwalkan berlangsung di Grand City Convex, bertajuk "Grand Dharmahusada Lagoon Live Exlusive Concert 3 Diva". 



Menurut dia, Krisdayanti, Ruth Sahanaya, dan Titi DJ akan tampil maksimal pada konser penutup reuni mereka. 



"Apalagi saya merasa pulang kampung. Jadi saya akan tampil maksimal," ucap Krisdayanti menegaskan.



Penyanyi kelahiran Batu, Jawa Timur, ini mengaku sudah enam tahun tidak konser bareng dua rekannya di 3 Diva itu, sebelum kemudian dipertemukan kembali untuk menggelar konser reuni pada 2016. 



"Tapi semalam kita sudah "warming up" tampil di acara "gathering private party" di Jakarta, dan nanti kita akan maksimal ketika tampil di Surabaya," ujar penyanyi berusia 41 tahun ini.



"Ya, nanti waktu konser kita bebankan semuanya ke Krisdayanti saja, dia kan orang Jawa Timur," ujar Titi DJ melontarkan canda yang disambut tawa para hadirin. 



Lebih lanjut Titi menjelaskan bahwa konser reuni pamungkas 3 Diva di Surabaya nanti mengambil konsep intim dengan iringan band yang minimalis. 



"Pertunjukannya akan mengisahkan perjalanan karir bermusik kita dari awal hingga dipertemukan menjadi 3 Diva. Jadi ada bagian dari kita yang tampil solo menyanyikan lagu hits masing-masing, lalu ada duetnya juga, selain pastinya nanti kita tampil bareng bertiga," jelasnya. 



Sebanyak 29 judul lagu telah dipersiapkan untuk konser penutup 3 Diva di Surabaya. "Mari, semoga besok berbagi kebahagiaan bersama. Kita bakal tampilkan yang terbaik. Semoga berjalan lancar," ucap Ruth Sahanaya. 

Blogroll

Wikipedia

Hasil penelusuran

Total Tayangan Halaman

Translate

About